Skip to main content

Mediated Interpersonal Communication

Introduction
How technology affects human
interaction
Elly A. Konijn, Sonja Utz, Martin Tanis,
and Susan B. Barnes


Communicating with friends and family members via the (cell) phone or  email, working in a virtual team, seeking a partner on an online dating site, looking for support in an online social support group, interacting with an automated speech system while booking a flight, getting help from an avatar while visiting an online store, watching “Sex and the City,” and perceiving the girls as friends, or spending some time in Second Life—activities like these have become part of everyday life for many people. A great deal of interpersonal communication is now mediated by technology, but computer-mediated technologies (e.g., sms, chat rooms, msn, email, virtual group work, weblogs, mobile social software) can sometimes facilitate or impede communication and can alter interpersonal interactions. The primary focus of this edited volume, Mediated Interpersonal Communication, is on the impact of communication media on interpersonal communication. The book covers a wide range of communication media as well as contexts. The chapters range from private contexts such as communication with family and friends via the cell phone or online dating via recreational contexts such as playing games and parasocial interactions with (new) media characters to professional contexts such as virtual collaboration practices. The chapters deal with more traditional media such as TV, newsgroups, and email, discuss newer trends such as mobile social media, and provide examples of technologies in development such as touch in computer-mediated communication. Much attention is paid to how new technologies challenge the more traditional definitions of interpersonal communication. Recent trends in mass communication (such as the personalization of messages) and interpersonal communication (such as the increasing use of technical devices to communicate interpersonally) have blurred the boundaries between the two fields, forcing us to develop more sophisticated theories and models. New technologies can be seen as relationship enablers—they not only add new forms of interpersonal communication, but they fundamentally change how individuals interact (e.g. communication with avatars, parasocial interactions).

Comments

Popular posts from this blog

Allan P. Merriam, The Anthropology Of Music Capter XI, “Use and Functions”

(Allan P. Merriam) Gambar diunduh dari https://en.wikipedia.org/wiki/Alan_P._Merriam A.Merriam, The Anthropology Of Music Capter XI, “Use and Functions”                 Kegunaan (use) dan fungsi (function) music merupakan masalah yang sangat penting dalam etnomusikologi, karena hal ini menyangkut makna musik, tidak hanya fakta-fakta mengenai music. Tentu saja, dalam etnomusikologi kita selalu berusaha untuk mengumpulkan fakta mengenai musik. Tetapi lebih dari itu, kita ingin mengetahui pula efek / dampak music terhadap manusia, dan kita ingin mengerti bagaimana efek tersebut digasilkan.                 Menurut Merriam, para etnomusikologi sering-sering memakai istilah ‘kegunaan’ dan ‘fungsi’ secara rancu, bahkan para antropolog kadangkala berbuat demikian. Namun, kedua gagasan tersebut harus dibedakan satu s...

MEMBACA NALAR STUDI AGAMA SAKRAL DAN PROFAN KARYA MERCIA ELIADE

oleh : Wisnu Wirandi Buku “ Sakral Dan Profan ” adalah sebuah dokumen yang sangat mendasar tentang pemahaman manusia tentang agama dan bagaimana ia menguji kualitas hidupnya. Mircea Eliade (1907-1986) tidak membuang-buang waktu dengan berupaya menjelaskan atau mendefinisikan pengalaman yang sakral dalam kerangka disiplin-disiplin yang lain. Misalnya, yang sakral sebagai sebuah pengalaman psikologis (Campbell) atau yang sakral sebagai sebuah fenomena sosiologis (Burkert). Sebaliknya, ia menganalisa yang sakral sebagai yang sakral. Eliade menunjukkan bagaimana ruang dan waktu yang sakral adalah sungguh-sungguh ruang dan waktu yang riil, nyata, permanen dan abadi; kebalikan dengan ruang dan waktu yang labil, selalu berubah-ubah dari dunia profan. Kalangan  homo religiusus  (orang-orang tradisional) menghidupkan kembali kebaikan-kebaikkan primordial dari dewa-dewa dan ritus-ritusnya, tentu saja tidak seperti manusia modern, dalam semua tingkah lakunya, karena tindakan-...

ARTIKEL SENI ANGKLUNG BUHUN PADA MASYARAKAT DESA CISUNGSANG “Perubahan dan Perkembangannya”

ARTIKEL SENI ANGKLUNG BUHUN PADA MASYARAKAT DESA CISUNGSANG “Perubahan dan Perkembangannya” PENDAHULUAN Pandangan seni di masyarakat sangat beragam, karena masyarakat terdiri dari berbagai disiplin ilmu, budaya, dan   strata social. Dari berbagai keberagaman yang ada di masyarakat tersebut terkandung suatu system nilai yang mana mendominasi nilai-nilai lain didalamnya, seperti nilai spiritual dan nilai social yang sangat terlihat dalam praktiknya. Paradigma seni yang ada di masyarakat, segala sesuatu di nilai tinggi berdasarkan materinya. Misalnya seperti paradigma yang ada di masyarakat kalangan menengah ke bawah. Seni hanya untuk seni dalam konteks hiburan ( profane ), mereka tidak ingin tahu sejauh mana nilai yang terkandung dalam seni tersebut mereka hanya mengandalkan kesenangan belaka ketika melihat objek seni yang mereka anggap menarik. Mereka hanya mengandalkan nilai dasar, yakni karya seni yang mampu memberi kenikmatan yang bersifat materi, meskipun seni ter...