Skip to main content

Everyday Life and Cultural Theory (Ben Highmore)


Everyday Life and Cultural Theory

‘Ben Highmore’s engaging and readable study of how modern and contemporary theories have defined and examined everyday life provides a lens for students and scholars alike through which to examine a central issue in cultural studies and social thought.’Ivan Karp, Emory University ‘Highmore has produced a valuable resource for teachers in all the disciplines that are concerned with the study of culture. He addresses the key thinkers who have defined the major variants of this crucial construct of cultural theory, and he has done so both accessibly and brilliantly.’ George Marcus, Rice University Everyday Life and Cultural Theory provides a unique critical and historical introduction to theories of everyday life. Ben Highmore traces the development of conceptions of everyday life from the cultural sociology of Georg Simmel, through the Mass-Observation project of the 1930s to contemporary theorists such as Michel de Certeau.

Individual chapters examine:
Modernity and everyday life
Georg Simmel and fragments of everyday life
Surrealism and the marvellous in the everyday
Walter Benjamin’s trash aesthetics
Mass-Observation and the science of everyday life
Henri Lefebvre’s dialectics of everyday life
Michel de Certeau’s poetics of everyday life
Everyday life and the future of cultural studies

Ben Highmore is a Senior Lecturer in Cultural and Media Studies at the University of the West of England. He is editor of the Everyday Life Reader (forthcoming, Routledge 2002).

DOWNLOAD EBOOK : Disini

Comments

Popular posts from this blog

Allan P. Merriam, The Anthropology Of Music Capter XI, “Use and Functions”

(Allan P. Merriam) Gambar diunduh dari https://en.wikipedia.org/wiki/Alan_P._Merriam A.Merriam, The Anthropology Of Music Capter XI, “Use and Functions”                 Kegunaan (use) dan fungsi (function) music merupakan masalah yang sangat penting dalam etnomusikologi, karena hal ini menyangkut makna musik, tidak hanya fakta-fakta mengenai music. Tentu saja, dalam etnomusikologi kita selalu berusaha untuk mengumpulkan fakta mengenai musik. Tetapi lebih dari itu, kita ingin mengetahui pula efek / dampak music terhadap manusia, dan kita ingin mengerti bagaimana efek tersebut digasilkan.                 Menurut Merriam, para etnomusikologi sering-sering memakai istilah ‘kegunaan’ dan ‘fungsi’ secara rancu, bahkan para antropolog kadangkala berbuat demikian. Namun, kedua gagasan tersebut harus dibedakan satu s...

MEMBACA NALAR STUDI AGAMA SAKRAL DAN PROFAN KARYA MERCIA ELIADE

oleh : Wisnu Wirandi Buku “ Sakral Dan Profan ” adalah sebuah dokumen yang sangat mendasar tentang pemahaman manusia tentang agama dan bagaimana ia menguji kualitas hidupnya. Mircea Eliade (1907-1986) tidak membuang-buang waktu dengan berupaya menjelaskan atau mendefinisikan pengalaman yang sakral dalam kerangka disiplin-disiplin yang lain. Misalnya, yang sakral sebagai sebuah pengalaman psikologis (Campbell) atau yang sakral sebagai sebuah fenomena sosiologis (Burkert). Sebaliknya, ia menganalisa yang sakral sebagai yang sakral. Eliade menunjukkan bagaimana ruang dan waktu yang sakral adalah sungguh-sungguh ruang dan waktu yang riil, nyata, permanen dan abadi; kebalikan dengan ruang dan waktu yang labil, selalu berubah-ubah dari dunia profan. Kalangan  homo religiusus  (orang-orang tradisional) menghidupkan kembali kebaikan-kebaikkan primordial dari dewa-dewa dan ritus-ritusnya, tentu saja tidak seperti manusia modern, dalam semua tingkah lakunya, karena tindakan-...

ARTIKEL SENI ANGKLUNG BUHUN PADA MASYARAKAT DESA CISUNGSANG “Perubahan dan Perkembangannya”

ARTIKEL SENI ANGKLUNG BUHUN PADA MASYARAKAT DESA CISUNGSANG “Perubahan dan Perkembangannya” PENDAHULUAN Pandangan seni di masyarakat sangat beragam, karena masyarakat terdiri dari berbagai disiplin ilmu, budaya, dan   strata social. Dari berbagai keberagaman yang ada di masyarakat tersebut terkandung suatu system nilai yang mana mendominasi nilai-nilai lain didalamnya, seperti nilai spiritual dan nilai social yang sangat terlihat dalam praktiknya. Paradigma seni yang ada di masyarakat, segala sesuatu di nilai tinggi berdasarkan materinya. Misalnya seperti paradigma yang ada di masyarakat kalangan menengah ke bawah. Seni hanya untuk seni dalam konteks hiburan ( profane ), mereka tidak ingin tahu sejauh mana nilai yang terkandung dalam seni tersebut mereka hanya mengandalkan kesenangan belaka ketika melihat objek seni yang mereka anggap menarik. Mereka hanya mengandalkan nilai dasar, yakni karya seni yang mampu memberi kenikmatan yang bersifat materi, meskipun seni ter...